ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI

Pemisahan psikologi dari filsafat diawali oleh wilhem Wundt dalam penelitian psikologi fisiologis. Wundt adalah salah seorang tokoh psikologi yang beraliran Strukturalisme. Aliran yang mendominasi pandangan psikologi di Jerman. Selain Strukturalisme ada banyak aliran-aliran psikologi laininya. Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa aliran psikologi.

  1. A. Aliran Strukturalisme

Aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala-gejala psikis harus mempelajari isi dan struktur psikis seseorang. Oleh karena itu, aliran ini banyak mempelajari tentang apa saja yang menjadi gejala psikis seseorang, bagaimana strukturnya, dan unsure apa yang terkandung di dalamnya (Khadijah, 2006:23). Struktur adalah system transformasi yang mengandung kaidah-kaidah sebagai system (sebagai lawan dari sifat unsur-unsur) dan yang melindungi diri atau memperkaya diri melalui peran transformasi-transformasinya, tanpa keluar dari batasan-batasannya atau menyebabkan masuknya unsur-unsur luar dalam kaitan ini, Piaget menyebutkan tiga sifat yang dicangkup dalam sebuah struktur, yaitu totalitas, tranformasi dan pengaturan diri.

Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertama kali dikemukakan oleh wundt setelah ia melakukan eksperimen eksperimen di Leipzig. Sebagai tokoh yang pertama kali mempelajari psikologi sebagai ilmu yang otonom atau mandiri, wajar jika Wundt pada masa itu ingin mengetahui apa sesungguhnya gejala kejiwaan tersebut. Selanjutnya, bagaimana strukturnya? Terdiri apa saja? Apakah elemen-elemen dari gejala kejiwaan tersebut? Dalam upaya menjawab berbagai pertanyaan itu, Wundt sampai pada strukturalisme, karena ia percaya bahwa gejala-gejala kejiwaan dapat dibagi-bagi dalam elemen-elemen yang lebih kecil.

Hanya dengan menganalisis berbagai elemen kejiwaan inilah, kita bisa mempelajari gejala kejiwaan. Tokoh strukturalisme lain adalah Edward Bradford Titchener (1867 – 1927). Ia adalah seorang Inggris yang dilahirkan dari keluarga yang tidak berada. Ia harus betul-betul menggantungkan diri pada kecerdasannya untuk memperoleh berbagai beasiswa agar dapat melanjutkan studinya.

Titchener, seperti ditulis Dirgagunarsa (1982:49), merupakan orang Inggris yang mewakili pandangan-pandangan psikologi Jerman (Wundt) di Amerika Serikat.

  1. B. Aliran Fungsionalisme

Pada tahun 1890-an, pendekatan strukturalisme dari Wundt ditolak oleh  William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Dipengaruhi oleh teori Evolusi Darwin, mereka membentuk aliran Fungsionalisme yang kemudian mendominasi pandangan psikologi di Amerika Serikat.

Aliran ini banyak mempelajari tentang fungsi gejalagejala psikis dan metode yang banyak dipakai adalah metode observasi perilaku. Selain tokoh tersebut, tokoh aliran ini adalah James Rowland Angel dan Harvey Carr di Chicago, James Mc Keen Cattell dan Edward Lee Thorndike di Colombia.

Pada masa ini, dimensi-dimensi yang dipelajari mencakup :

  1. Penelitian tentang anak yang dimulai oleh Standley Hall.
  2. Penelitian tentang perbedaan individual dan pengujiannya yang dimualai oleh James Mc Keen Cattell
  3. Penelitian teori belajar yang dimualai oleh E.L. Thorndike (Bell-Gredler, 1986 dalam Khadijah, 2006).

C. Aliran Behaviourisme

Aliran ini timbul di Amerika Serikat sebagai aliran yang menentang Strukturalisme di Jerman dan Fungsionalisme di Amerika Serikat. Peletak dasar aliran ini adalah James Broadus Watson. Watson berusaha menjadikan psikologi sebagai ilmu yang lebih objektif dengan hanya mempelajari hal-hal yang kongkrit saja, yaitu perilaku yang dapat diamati dan dapat diukur secara langsung (Khadijah, 2006: 16).

Ciri-ciri utama aliran Behaviourisme

  1. Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang berdasarkan kenyataan.
  2. Segala macam perbuatan dikembalikan kepada refleks. Refleks adalah reaksi yang  tidak disadari terhadap suatu rangsangan. Manusia dianggap suatu kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.
  3. Behaviourisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang adalah sama. Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak hatinya.

Pendapat-pendapat para pengikut Behaviourisme

  1. James adalah perintis jalan filsafat pragmatisme.

Pokok ajaran pragmatisme:

  1. Tiap berpikir mengandung maksud tertentu, yaitu menyempurnakan hidup.
    1. Segala kenyataan bersifat pragmatis, yakni mengandung maksud-maksud tertentu, dan kenyataan itu hanya berarti kalau ada faedahnya dari manusia.
    2. Nilai pengetahuan manusia harus diuji pada kehidupan yang praktis. Benar tidaknya sesuatu fikiran itu dapat dilihat dari dapat tidaknya fikiran itu dipraktekkan, dan terbukti atau tidaknya maksud yang terkandung di dalamnya.
    3. Semboyan kaum Behaviourisme: “The truth is in the making”. Benar ialah apa yang dalam praktek ternyata tepat dan menguntungkan; tidak benar, ialah apa yang dalam praktek tidak memberi hasil.
    4. 2. Mac. Dougall

Insting dipandang sebagai pendorong penting dalam segala kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa Bahwa sebagai ilmu yang mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku manusia.

  1. 3. Thorndike

Dia adalah pengikut behaviourisme yang tidak radikal. Pendapat-pendapatnya ditulis dalam “Animal Intelligence” dan “Educational Psychology”.

  1. D. Aliran Gestalt

Tokoh: Von Ehrendels.

Gestalt Psikologi, timbul sebagai reaksi terhadap elemen psikologi.

  1. dalam alat kejiwaan tidak terdapat jumlah unsur-unsur melaiankan gestalt (keseluruhan).
  2. Tiap-tiap bagaian tidak berarti sama sekali, dan baru mempunyai arti kalau bersatu dalam hubungan kesatuan. Tiap bentuk tertentu dari kesatuan itu disebut gestalt.

Aliran-aliran dalam Aliran ini adalah :

  1. a. Aliran Berlin, tokohnya: Wertheimer, Koffka, W. Kohler.

Wertheimer: merusmuskan teori gestalt dengan cara modern. Percobaan yang dijalankannya mengenai pengamatan dan penglihatan. Wertheimer mengemukan asas-asas teori gestalt: Jumlah, kompleks, struktur, Gestalt, dan Gestalt tersusun.

Koffka: berpendapat bahwa gestalt psikologi sebagai psikologi pertumbuhan. Dia menyelidiki dan mencari asas-asas pertumbuhan dalam ilmu jiwa anak dan mempelajari pertumbuhan gestalt yang mula-mula sangat sederhana dan kemudian menjadi gestalt yang sempurna seperti terdapat pada orang dewasa.

Kohler: menguraikan tentang perbuatan seekor simpanse dalam  rangka menyelidiki kecerdasan binatang. Dalam percobaan ini Kohler mengatakan: peristiwa terjadinya hubungan antara simpanse – tongkat – pisang merupakan suatu gestalt.

  1. b. Aliran Leipzig, tokohnya: Kreuger, H. Vokelt

Pendapat aliran Leipzig:

  1. Dalam tiap-tiap pribadi sebagai suatu Ganzheit hidup (kejiwaan) suatu pendorong untuk mempersatukan, dengan adanya dorongan itu orang tidak pernah menerima bagian-bagian tersendiri. Segala sesuatu diterimanya oleh keseluruhan batinnya dalam bentuk kesatuan.
  2. Kesatuan hidup kejiwaan terutama pada perasaan. Segala sesuatu yang pada suatu ketika ada dalam alam kejiwaan tersembunyi dalam perasaan, sebab di dalam perasaan terkandung seluruh hidup kejiwaan.

E.   Psikologi Empiris

Psikologi empiris bersandar kokoh pada pengalaman pengamatan yang sistematis dan eksperimen-eksperimen, sehingga disebut “Psikologi Eksperiment”, dan oleh karena obyeknya adalah tingkah laku manusia yang dapat dilihat, maka disebut juga “Psikologi Nyata”.

Beberapa tugas dari psikologi empiris dapat dikemukan sebagai berikut:

  1. Mengamati atau mengadakan observasi
    1. Menuliskan atau mengadakan deskripsi
    2. Mengadakan klasifikasi dan sistematisasi
    3. Menjelaskan (membuat hukumnya, dan mencari hubungan kausalitas dan relasional).
  1. F. Aliran Psikoanalisis,

Berbeda dengan aliran-aliran pada masa itu, aliran yang dipelopori oleh Sigmund Freuid ini lebih banyak meneliti tentang gejala ketidaksadaran pada psikis seseorang. Menurut Freud, kehidupan manusia dikuasai oleh alam ketidaksadaran (unconsciousness) yang terletak jauh di dalam psikisnya, tertutup oleh alam kesadarannya.

Berbagai macam penyimpangan perilaku dapat disebabkan oleh factor-faktor yang terdapat di dalam alam ketidaksadaran, sehingga untuk mempelajari psikis seseorang perlu menganalisisnya sampai terlihat ke dalam alam ketidaksadarannya. Karenanya aliran ini disebut juga aliran psikologi dalam (Depth Psychology).

Freud mengumpamakan psikis manusia itu seperti gunung es di tengah laut. Bagian yang terlihat adalah bagian kesadaraan dan bagian banyak yang tak terlihat itulah bagian ketidaksadaran. Freud juga berpendapat, bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga system, yaitu:

  1. Id, mengandung dorongan-dorongan primitif yang mengikuti prinsip kesenangan tanpa mempedulikan akibatnya.
  2. Ego, bertugas merealisasikan dorongan-dorongan Id dengan berpegang pada prinsip kenyataan.
  3. Super Ego, berisi kata hati (coscience) yang bertugas mengontrol dan menyensor dorongan-dorongan Id yang akan direalisasikan.

Teknik terapi yang digunakan freud terhadap pasien-pasiennya meliputi: Talking Cure, Free Association, Hypnose dan Analisis Mimpi. Pada teknik Talking Cure, pasien diminta mengeluarkan seluruh isi hatinya sehingga menimbulkan Catharsis, keadaan dimana pasien dengan bebas mengemukakan semua masalahnya. Pada teknik Free Association, diberikan stimulasi kata-kata yang memungkinkan pasien bereaksi secara bebas terhadap kata-kata tersebut guna mengetahui konflik batin yang tidak disadari. Pada teknik Hypnose, pasien dijadikan setengah sadar atau berkurang kesadarannya sehingga lebih mudah dilihat alam ketidaksadarannya. Pada teknik analisis mimpi, mimpi-mimpi dianalisis guna mengetahui isi alam ketidaksadarannya.

Dengan banyaknya jumlah aliran yang ada, juga ditambah dengan munculnya cabang-cabang baru, saat ini psikologi sudah mengalami perkembangan yang semakin pesat. Di dalam bidang psikologi pendidikan sendiri, paradigma belajar yang sebelumnya didasarkan pada pendekatan behaviorisme dan kognitif, sekarang telah muncul paradigma baru yaitu Kontruktivisme, dimana proses bukan lagi dipandang sebagai sekedar proses memahami pelajaran atau ilmu pengetahuan yang diberikan tetapi lebih merupakan pada proses mengkontruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman (Khadijah, 2006:15-17).

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: